Dahulu kala, kata Amartya Sen, peraih Nobel bidang ekonomi, ada tiga orang gadis kecil. Masing-masing mengambil seruling untuk dirinya sendiri. Yang pertama minta karena dialah yang membuatnya, katanya. Yang kedua bertanya karena, jelasnya, dialah satu-satunya dari ketiganya yang bisa memainkan seruling. Yang ketiga menginginkannya karena, akunya, dialah satu-satunya dari ketiganya yang tidak punya mainan. Kesunyian. Perasaan malu. Ragu. Kepada siapa saya harus memberikan peluitnya? Apa keputusan yang “benar”? Dan siapa yang harus mengambil keputusan?
Filsafat bukan sekedar konsep; itu ada dalam kata-kata…











