India sebagian besar memesan banyak peralatan militer dari Prancis, terbukti dengan pesanan 114 Rafale yang diumumkan pada bulan Februari dan potensi 31 Rafale Marine lainnya beberapa hari kemudian, namun negara tersebut juga banyak mengekspor. Seperti yang diketahui BFM, pada tahun fiskal 2025-2026, ekspor militer India meledak hingga mencapai Rp 384 miliar, atau 3,5 miliar euro. Pada periode yang sama tahun lalu adalah a lompatan 62%akan diumumkan di Kementerian Pertahanan pada Kamis, 2 April.
Menurut Menteri Rajnath Singh, India mempunyai kedudukan yang sama “menjadi pusat industri senjata global” terutama berkat banyaknya ekspor roket, kapal perang, sistem radar atau bahkan artileri. Begitu banyak peralatan ‘buatan India’, lebih dari separuhnya diproduksi oleh perusahaan pemerintah, sedangkan sisanya diproduksi oleh perusahaan swasta.
Safran dan Airbus memilih India
Di jejaring sosial X, Menteri Pertahanan India menyambut baik peningkatan penjualan ini pada tahun 2025 “mencerminkan semakin besarnya kepercayaan (negara-negara asing) terhadap kemampuan nasional dan kekuatan industri India”. Negara mana yang paling banyak bekerja sama dengan India? Tentu saja Amerika Serikat dan Perancis, tapi juga Armenia. Prancis sudah mengumumkan hal ini pada bulan FebruariAirbus akan menetap secara permanen di negara tersebut. Sebagai pelanggan selama lebih dari 50 tahun, India telah meresmikan jalur perakitan Helikopter Airbus untuk produksi helikopter andalan H125.
Beberapa hari sebelumnya, Safran telah mengumumkan proyek serupa sebagai bagian dari “Make in India” untuk membuat Jalur perakitan mesin Rafale M88yang pertama di luar Perancis. Sebuah proyek yang dilaksanakan bersamaan dengan banyaknya pesanan Rafale di seluruh negeri. Kerja sama pertahanan mendorong produsen untuk mendirikan pabrik di India, terutama karena dalam kasus Helikopter Airbus, jalur perakitan akan dikelola oleh grup swasta India, yaitu Tata Group, kenang BFM.
Anggaran pertahanan meningkat tajam
Dalam konteks inilah Emmanuel Macron bertemu dengan Perdana Menteri Narendra Modi pada bulan Februari. “Kerja sama kami dengan India saling menguntungkan”kepala Pusat Teknik dan Inovasi Airbus di Bangalore, Jocelyn Gaudin, menyoroti hal ini. Peningkatan ekspor ini menunjukkan bahwa India ingin mengurangi ketergantungannya pada impor senjata. Prancis juga bisa menjadi salah satunya hubungan strategis jangka panjang dan mengamankan pasar yang besar. Anggaran pertahanan India telah melakukan hal yang sama pada tahun anggaran baru meningkat sebesar 15%sekitar 75 miliar euro.











