Pertandingan Liga Champions antara Real Madrid dan Benfica dihentikan selama sepuluh menit penuh setelah Vinicius Jr mengklaim dirinya menjadi korban pelecehan rasis. Insiden itu terjadi pada babak kedua setelah pemain internasional Brasil itu mencetak gol kemenangan di Estadio da Luz.
Dia bergerak ke dalam dan menciptakan ruang sebelum melepaskan tembakan luar biasa ke sudut atas dari sudut sempit. Pencetak gol Real itu kemudian mendapat kartu kuning karena selebrasinya, di mana ia menampilkan tarian samba gaya Brasil di bendera sudut. Namun, selebrasinya berubah menjadi kengerian dan kemarahan ketika dia memberi tahu wasit bahwa dia mendengar pelecehan rasis yang ditujukan kepadanya. Tuduhan itu muncul setelah terjadi perdebatan dengan pemain Benfica Gianluca Prestianni yang terlihat berbicara dengan Vinicius Jr sambil menutup mulutnya dengan kausnya.
Setelah memberi tahu wasit, Vinicius Jr. pergi ke ruang istirahatnya dan duduk di dalamnya, menyebabkan permainan tertunda.
Saat dia berada di sana, orang-orang seperti Jose Mourinho, yang kini melatih klub kelas berat Portugal, terlihat berbicara dengan pemain Brasil itu. Wasit Francois Letexier kemudian memberi sinyal penerapan protokol anti-rasisme UEFA.
Sebuah pengumuman dibuat melalui sistem alamat publik yang menyerukan agar perilaku rasis di kerumunan segera dihentikan. Setelah jeda sekitar sepuluh menit, permainan akhirnya dilanjutkan kembali.
Letexier juga menunjukkan kartu merah kepada salah satu staf kepelatihan Benfica saat jeda pertandingan. Pada menit ke-85, dalam insiden terpisah, Mourinho mendapat kartu merah karena protesnya terhadap keputusan di lapangan.
Itu adalah akhir dari malam sepak bola yang menegangkan dan tidak menyenangkan di Estadio da Luz. Usai kejadian tersebut, mantan wasit sekaligus analis Mark Clattenburg menyampaikan pemikirannya.
Dia berkata: “Sebagai wasit, saya pernah mengalami situasi ini sebelumnya ketika para pemain melaporkan komentar rasis di lapangan. Yang bisa dia lakukan hanyalah membuat laporan. Setelah itu UEFA akan menyelidiki masalah ini. Sebagai wasit, sangat sulit dalam situasi ini.”
Ada tambahan waktu 12 menit, terutama karena penundaan permainan. Ada juga insiden pelemparan benda ke arah pemain, seperti Vinicius yang terkena botol air di reli terakhir saat hendak mengambil tendangan sudut.
Di masa tambahan waktu, ketika bek Benfica Nicolas Otamendi memberikan umpan silang kepada Vinicius dari tendangan sudut, ia pun mengejeknya dengan mengangkat kausnya dan menunjukkan tato trofi Piala Dunia dan Copa America yang ia tato di badannya.
Ini bukan kali pertama suporter Benfica dituduh melakukan penghinaan rasis yang dilakukan seorang pemain. Pada tahun 2006, Manchester United mengajukan keluhan resmi ke UEFA setelah Louis Saha dan Patrice Evra mengalami panggilan monyet dan penghinaan rasis lainnya saat bermain melawan tim Portugal di Liga Champions.











