“Tidak akan ada rencana restrukturisasi, redundansi kolektif, atau rencana pengurangan tenaga kerja lainnya di Arcelor di Uni Eropa.” Pada bulan Juni 2006, saat pasar sahamnya menyerang Arcelor, Lakshmi Mittal ingin meyakinkan. Tawaran pengambilalihan yang tidak bersahabat yang akan melahirkan raksasa ArcelorMittal kemudian disajikan sebagai pembukaan era industri baru bagi industri baja Eropa.
Saat itu, pada tahun 2005, Mittal melambangkan kejayaan globalisasi: Majalah Forbes menempatkannya sebagai orang terkaya ketiga di dunia. Putra seorang industrialis India, ia membangun kekayaannya dengan membeli pabrik baja yang bangkrut di Indonesia, di bawah kediktatoran temannya, Suharto.











