Home Politic ketika media sosial membuatmu merasa bersalah

ketika media sosial membuatmu merasa bersalah

127
0



Foto-foto indah dari pesta ulang tahun yang terorganisir dengan sempurna, masakan rumahan, atau anak-anak yang selalu tersenyum… Instagram menawarkan banyak akun dari orang tua yang tampaknya dapat mengendalikan situasi dalam segala keadaan. Tapi jangan salah paham.

Foto-foto tersebut disaring dengan cermat dan sering kali hanya menampilkan aspek paling positif dari menjadi orang tua. Namun, surga yang tersaring ini dapat memberikan tekanan yang sangat besar karena mendorong terjadinya perbandingan. Tiba-tiba kita merasa berkewajiban untuk memenuhi standar-standar yang tidak realistis ini. “Penting untuk menyadari bahwa gambar-gambar ini tidak dapat diakses karena tidak nyata”menggarisbawahi Marion Inigo, psikolog di Montauban.

Di balik setiap foto terdapat kenyataan yang jauh lebih kompleks. Saat-saat sulit, tangisan di angkutan umum tidak pernah ditampilkan. “Masalahnya, gambar-gambar ini bisa dijadikan acuan, sebagai standar yang ingin dicapaipsikolog melanjutkan. Perbandingan terus-menerus ini dapat dengan cepat berubah menjadi ketakutan, terutama ketika kita merasa tidak berdaya untuk mencapai standar yang tidak realistis ini.”

Pendidikan positif dan tekanan sosial

Saat ini, pola asuh positif dipromosikan secara luas sebagai metode ideal dalam membesarkan anak dalam lingkungan yang penuh perhatian. Meskipun konsep ini dapat memberikan solusi yang sangat berguna, konsep ini juga dapat menciptakan ekspektasi yang tinggi mengenai cara menangani setiap situasi.

Ketakutan berasal dari kenyataan bahwa kita terus-menerus merasa gagal jika kita gagal mewujudkan pola asuh yang sempurna dan penuh perhatian ini setiap saat.

Emas “Menjadi orang tua yang baik bukan berarti menjadi sempurna”ingat Marion Inigo. “Yang terpenting adalah mendengarkan kebutuhan anak Anda, dan pada saat yang sama memenuhi kebutuhan Anda sendiri. Hal ini terkadang mencakup saat-saat menegangkan, kesalahan, dan ketidaksempurnaan.” Terutama karena pendidikan yang baik tidak boleh mengesampingkan penetapan aturan dan batasan. “Penting untuk memiliki kerangka kerja yang jelas untuk menyediakan lingkungan yang aman bagi anak”dia menambahkan. Yang mana Instagram hampir tidak pernah tampilkan.

Bagaimana cara mengambil langkah mundur?

Karena tekanan dari jejaring sosial, penting untuk mengambil langkah mundur. Untuk melakukan ini, Anda perlu mengingatkan diri sendiri secara teratur bahwa apa yang Anda lihat online hanyalah sebagian kecil dari kenyataan yang tersaring. Membatasi paparan Anda terhadap konten ini juga dapat mengurangi dampak tekanan ini. Gunakan aplikasi untuk menyembunyikan aplikasi yang berpotensi bermasalah seperti Instagram.

Mengelilingi diri Anda dengan orang tua lain juga dapat bermanfaat, baik secara online maupun di kehidupan nyata. Kelompok diskusi, forum atau asosiasi pengasuhan anak seperti Maison des Adolescents atau Unaf merupakan kontak yang berharga untuk bertukar pengalaman dan meyakinkan satu sama lain. Berbicara dengan orang tua lain dapat membantu Anda memahami bahwa Anda tidak sendirian dalam petualangan ini, dan bahwa setiap keluarga berfungsi dengan caranya sendiri, dengan tantangan dan keberhasilannya.

Terakhir, hargai keluarga Anda sendiri. Setiap salinan unik dan tidak ada yang sempurna. Ini tentang menemukan keseimbangan yang cocok untuk Anda dan anak Anda.

Sumber: wawancara dengan Marion Inigo, psikolog di Montauban



Source link