Bagi Dominique de Villepin, Emmanuel Macron sedang ‘menundukkan’ Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump dengan tanggapannya yang ‘tidak bertanggung jawab’ setelah penangkapan Nicolas Maduro oleh pasukan AS. Presiden Perancis “memilih untuk tidak bereaksi berlebihan, karena pada satu titik ia takut membuat Donald Trump kesal mengenai keputusan Amerika untuk melakukan intervensi di Caracas, karena ia merasa harus memimpin perjuangan yang lebih penting baginya, yaitu perjuangan melawan Ukraina. Dan karena itu ia sedikit banyak memilih targetnya. Apa yang tidak dia pahami, yang luput dari perhatiannya, adalah bahwa semua rakyatnya saat ini terhubung. Tidak bereaksi terhadap apa yang terjadi di Venezuela berarti melemahkan dirinya sendiri dalam perundingan mengenai Ukraina,” jelasnya.
“Hal pertama yang harus dilakukan negara-negara Eropa adalah pertama-tama menandai dengan jelas apa yang tidak dapat kami terima dalam keputusan Amerika, melengkapi diri mereka dengan tuas, dan itu adalah keadaan darurat mutlak (…) ini adalah kebalikan dari apa yang dilakukan Emmanuel Macron tadi malam,” kata mantan menteri luar negeri tersebut di BFMTV. “Kita sedang dalam proses menyangkal identitas historis kita sendiri,” tegas pria yang menonjol pada tahun 2003 ketika ia menjadi kepala diplomasi Jacques Chirac dengan pidatonya di depan PBB menentang perang di Irak yang dilancarkan oleh Amerika Serikat pada masa pemerintahan George W. Bush, dan yang tidak menyembunyikan ambisi presidennya untuk tahun 2027.











