Xavi Espart bukan lagi nama yang menjanjikan di Barcelona. Sebaliknya, ia menjadi pilihan kuat bagi Hansi Flick.
Penampilannya baru-baru ini untuk tim Spanyol U19 melawan Slovenia memperjelas mengapa Flick begitu yakin untuk menyamakan kedudukan dengan Philipp Lahm.
Perbandingan ini tampak berlebihan pada awalnya, namun AS menjelaskan bagaimana hal tersebut kini secara bertahap menjadi kenyataan.
Apa ceritanya?
Apa yang membedakan Espart adalah keserbagunaannya dan kealamiannya dalam menafsirkan peran yang berbeda.
Berbeda dengan pemain yang dikerahkan untuk menyelesaikan masalah jangka pendek, Espart membaca permainan dengan perhatian seseorang yang memahami banyak posisi sekaligus.
Karir profesionalnya menjelaskan hal ini. Sebagai seorang gelandang, ia mengembangkan kepekaan terhadap penentuan posisi, ritme, dan pengambilan keputusan yang biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyempurnakannya.
Pada akhirnya, perpindahan ke peran bek sayap tidak membatasi dirinya, namun justru memperluas pengaruhnya.
Dia bertahan dari area yang luas, dia melakukan overlap, dia mendikte permainan dan juga menjangkau ke dalam bila diperlukan.
Melawan Slovenia, ketika ia kembali ditempatkan di lini tengah, sifat ini menjadi lebih jelas.
Dia mengendalikan transisi, mengenali bahaya sejak dini, dan memberikan struktur permainan.
Berdasarkan pernyataan di atas, Barcelona sudah mulai mendapatkan keuntungan dari profil ini.
Flick telah menunjukkan kepercayaan yang jelas pada Espart dengan menggunakannya dalam situasi tekanan tinggi daripada membiarkannya mendekat secara perlahan.
Menit melawan Newcastle United dalam hasil imbang yang mendebarkan dan awal dalam kemenangan nyaman atas Sevilla bukanlah keputusan acak, itu menunjukkan bahwa dia mampu memikul tanggung jawab.
Perbandingan Lahm adalah tentang mengenali profil sepakbola yang langka.
Pemain yang dapat beroperasi lintas lini tanpa mengganggu struktur tim sangatlah berharga, terutama dalam sistem yang didasarkan pada kecerdasan posisi.











