Dalam konteks yang ditandai dengan kontroversi panas seputar 150 juta labu yang dialokasikan oleh pemerintah, Universitas Quisqueya (UniQ) pada hari Jumat, 13 Maret 2026 meluncurkan secara resmi proyek UniQ Club Sport, serta program MAS (Academic and Sports Mentoring). Inisiatif ini tampaknya merupakan bagian dari upaya lembaga tersebut untuk membenarkan penggunaan dana publik tersebut, yang telah menimbulkan banyak pertanyaan di opini publik.

Dalam sebuah catatan yang diterbitkan pada tanggal 8 Maret untuk menjelaskan pembiayaan ini, Universitas Quisqueya menyoroti kesulitan keuangan yang telah mereka hadapi selama bertahun-tahun. Proyek baru ini, dirancang dan diusulkan oleh Kepala Departemen Olahraga Universitas, bertujuan khususnya untuk memperkuat pengawasan olahraga di dalam institusi dan menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan akademik dan olahraga mahasiswa.
Upacara ini juga menandai penandatanganan dua perjanjian kemitraan. Universitas Quisqueya telah menandatangani perjanjian kemitraan tiga tahun dengan SLG Académie. Nota Kesepahaman juga ditandatangani dengan Federasi Tenis Meja Haiti untuk periode yang sama.
Menurut pejabat universitas, kemitraan ini harus memungkinkan mahasiswa mendapatkan pelatihan baru dan peluang pembinaan olahraga. Dengan diluncurkannya UniQ Club Sport dan program MAS, lembaga ini bertujuan untuk berkontribusi terhadap pengembangan olahraga universitas di Haiti dan memperkuat hubungan antara universitas dan masyarakat sekitar.
Namun, bagi banyak pengamat, inisiatif ini tampaknya merupakan upaya universitas swasta untuk meredakan kontroversi seputar pendanaan publik ini, yang diberikan dalam konteks nasional yang ditandai dengan krisis ekonomi yang parah, ketidakpastian yang terus-menerus, dan kebutuhan mendesak di berbagai sektor publik.
Secara khusus, beberapa pihak menyoroti situasi genting yang dialami beberapa fakultas di Universitas Negeri Haiti (UEH), beberapa di antaranya harus mengosongkan lokasi mereka karena ketidakamanan dan terus menghadapi kekurangan ruang dan infrastruktur untuk mengajar mata kuliah.
Dalam kondisi seperti ini, sejumlah pihak mempertanyakan relevansi pengalokasian sumber daya publik ke institusi universitas swasta, sementara universitas negeri di negara ini terus mengalami kekurangan sumber daya dan infrastruktur yang kronis.
Barang serupa












