Salah satu tren paling jelas yang muncul di musim Barcelona sejauh ini adalah cara distribusi gol di dalam tim.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa Hansi Flick sengaja meringankan beban gawang Robert Lewandowski dengan tidak hanya menghalanginya, tetapi juga menciptakan struktur serangan yang lebih seimbang dan tidak dapat diprediksi.
Ketimbang hanya mengandalkan satu poin, Barcelona kini punya banyak pemain yang rutin berkontribusi di depan gawang.
Untuk menempatkan segala sesuatunya dalam perspektif, sebanyak itu Lima pemain telah mencapai double digit di semua kompetisidengan dua lagi di belakang, menandai perubahan signifikan dari musim-musim terakhir.
Lihatlah angka-angkanya
Di urutan teratas ada Ferran Torres dengan 15 gol, disusul Raphinha dengan 12 gol.
Lamine Yamal, yang mencapai tonggak 100 gol yang mengesankan, dan Lewandowski terikat dengan 11 gol, sementara Fermin Lopez telah mencapai 10 gol.
Di belakangnya ada Marcus Rashford dengan delapan gol dan Dani Olmo dengan tujuh gol.
Melihat lebih dekat pada kompetisi menunjukkan betapa meratanya distribusi gol.
Di La Liga, Ferran memimpin dengan 11 gol, namun Lewandowski (9), Raphinha (8) dan Lamine (8) semuanya berkontribusi secara konsisten.
Olmo (6), Fermin (4) dan Rashford (3) menunjukkan kedalaman yang dimiliki Flick saat ini.
Gambaran menjadi lebih menarik di Liga Champions UEFA. Di sini hierarki yang biasa dibalik.
Pasalnya Fermin memimpin dengan lima gol, disusul Rashford dengan empat gol.
Ferran, Lamine dan Jules Kounde masing-masing mencetak dua gol, sedangkan Lewandowski dan Olmo masing-masing mencetak satu gol.
Perlu dicatat bahwa Raphinha belum mencetak gol di kompetisi ini, yang berarti mungkin akan ada lebih banyak variasi di masa depan.
Rekor domestik
Situasi serupa terjadi di kompetisi piala nasional. Di Piala Super Spanyol, Raphinha mencetak ledakan empat gol, sementara Fermin, Lewandowski, Ferran dan Roony Bardghji juga berbagi tanggung jawab.
Sedangkan di Copa del Rey, gol dicetak Lamine, Ferran, Rashford, dan Andreas Christensen.
Kesimpulannya, bisa disimpulkan bahwa Barcelona tidak lagi fokus pada satu pencetak gol saja.
Di bawah Flick, gol datang dari mana-mana dan ini bisa menjadi model serangan paling berkelanjutan yang pernah mereka miliki selama bertahun-tahun.











