Meskipun saran nutrisi tradisional didasarkan pada rata-rata, nutrisi yang dipersonalisasi mempertimbangkan karakteristik spesifik setiap orang: usia, jenis kelamin, gaya hidup, status kesehatan, tingkat aktivitas fisik, namun terkadang juga metabolisme, mikrobiota usus, atau penanda biologis tertentu.
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa dua orang dapat memiliki reaksi yang sangat berbeda terhadap makanan yang sama. Misalnya, makanan yang meningkatkan kadar gula darah pada satu orang mungkin menyebabkan lonjakan signifikan pada orang lain. Perbedaan-perbedaan ini menjelaskan mengapa beberapa diet berhasil dengan baik bagi sebagian orang dan tidak sama sekali bagi sebagian lainnya.
Oleh karena itu, nutrisi yang dipersonalisasi bertujuan untuk meningkatkan pencegahan penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular atau obesitas, mengontrol berat badan dan kadar gula darah dengan lebih baik, mengoptimalkan energi, pencernaan, dan kesejahteraan umum. Dan yang terpenting, hal ini membuat nasihat nutrisi menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.
Bagaimana cara kerjanya?
Bergantung pada tingkat personalisasi, hal ini dapat berkisar dari saran gaya hidup sederhana (rencana makan, preferensi makanan, aktivitas fisik) hingga pendekatan lebih lanjut berdasarkan analisis biologis, seperti kadar gula darah setelah makan, profil lipid, atau mikrobiota usus. Dalam semua kasus, tujuannya bukanlah kesempurnaan, tetapi pola makan yang lebih disesuaikan dan realistis.
Waspadai hanyut
Oleh karena itu, penting untuk membedakan nutrisi yang dipersonalisasi berdasarkan ilmu pengetahuan dan janji-janji komersial yang berlebihan. Memang, genetika saja tidak cukup untuk memprediksi pola makan ideal dan prinsip dasar pola makan seimbang tetap berlaku untuk semua orang. Personalisasi melengkapi, bukan menggantikan, prinsip nutrisi dasar.
Sumber: WHO – Institut Kesehatan Nasional (NIH)











